BNI Kucurkan Kredit Petani tebu Rp 494M

By Admin

nusakini.com-- PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk wilayah Surabaya mengalokasikan plafon hingga Rp 494M miliar untuk kredit yang akan disalurkan kepada petani tebu pada musin tanam 2016-2017. Dari jumlah itu, untuk PTPN X sebesar Rp 130 miliar, PTPN XI sebesar Rp 184 miliar, dan PT Rajawali Nusantara ( RNI) sebesar Rp180 miliar. 

Pimpinan wilayah (Pimwil) Surabaya Bank BNI Risang Widoyoko mengatakan, penyaluran kredit ini menggunakan pola linkage atau bekerja sama dengan koperasi yang bernaung di bawah perusahaan perkebunan. Alokasi kredit mengacu pada perkiraan luas lahan, jumlah petani yang memiliki kemampuan, dan kriteria penyaluran kredit usaha rakyat (KUR). 

Pihaknya akan mengupayakan percepatan penyaluran KUR linkage tebu di Jatim sekaligus akan dibentuk tim khusus dan proyek percontohan penyaluran KUR linkage tebu.” Penyaluran kredit ke petani tebu ini merupakan bentuk keberanian kami masuk ke sektor agrobisnis. Kami berani menyalurkan kredit ke sektor ini karena ada kepastian dari komoditas yang dihasilkan petani. Ini tentu berbeda dengan petani padi yang pembeliannya belum kelas,” katanya. 

Adapun prospek usaha tani tebu diakui Risang, sangat layak untuk mendapatkan pembiayaan dari bank. Biasanya usaha tani tersebut yang paling susah adalah pemasarannya, tapi khusus tani tebu ini sudah langsung bisa ditampung pabrik gula (PG) yang diantaranya dikelola PTPN sekaligus sebagai off taker tebu petani. 

“Kami harus sangat berhati-hati ketika berani menyalurkan kredit sektor agrobisnis. Ada banyak yang belum ada kepastian, terutama dari sisi pemasarannya. Ketika pasar bagus, tapi komoditasnya turun, harga juga akan jatuh. Nah, dengan pola linkage lebih aman karena ada jaminan dari perusahaan selaku pembeli dari komoditas petani,”paparnya. 

Sementara itu, Direktur Keuangan PTPN X Muhammad Hanugroho mengatakan, fasilitas kredit untuk petani, khususnya petani tebu, harus ada untuk merangsang mereka menanam.

Pendanaan dari BNI diharapkan mampu mendorong petani tebu melakukan penanaman. Pendanaan dari BNI diharapkan mampu mendorong petani tebu melakukan penanaman. Apalagi bunganya juga terbilang rendah, yakni 9% per tahun. ”Memang harus ada improvisasi dari bank dalam hal pola penyaluran kredit. Misalnya dengan menggunakan pola linkage,” ujarnya. 

Menurut Ketua Dewan Pembina Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Pusat Arum Sabil, pertanian tebu adalah usaha yang layak pembiayaan bank. ”Usaha pertanian tebu dan pergulaan ini tidak pernah berhenti, sepanjang tahun itu berjalan terus. Di Jember ada satu PG yang omzetnya per tahun tembus di angka Rp 1 triliun dan itu potensi nyata buat perbankan untuk masuk ke pertanian tebu, yang dijamin PG sebagai avalisnya,” katanya. (p/ab)